Rabu, 02 Januari 2008

ISLAMIC PRIVATE BANKING

Private banking has been in a state of flux over the past several years due to a number of factors associated with competitive forces. These factors include consolidation and changes within the banking industry it self, the globalization of financial markets, technology advances, regulatory factors and the growth in the size of the markets.
In addition there has been the entry of new types of clients and players, which includes those related to Islamic Banking both from a user and provider perspective.

Islamic Banking:
The Islamic market has experienced a natural progression from retail to commercial and through to investment and private banking over the last 3-5 years. The two primary drivers for this change in the
Arabian Gulf, are:
(1) a growing middle income group who recognize the importance of savings, coupled with
(2) the increased sophistication of the Islamic banking industry in meeting the needs of investors who wish to have part or all of their assets managed in an Islamically compatible manner.

The ‘’cross-over’’ investor will be quite important to the growth of Islamic Banking as it relates to the Private Banking context.

Sharia Advisory Services: This area can involve many aspects with the core being expertise regarding Islamic structuring, tailoring for local preferences, knowledge of the Islamic marketplace and Sharia Law.

With respect to asset and portfolio management, it may include the following value-added services:
1) furnishing an appropriate Islamic index
2) providing consultation with regard to investment criteria and guidelines
3) screening for compliance with Islamic Sharia
4) assistance with dividend cleansing
5) due diligence review – compliance opinion
6) cash/liquidity management support
7) placement advice and assistance
8) portfolio and risk management tools
9) furnishing other relevant information

Future Opportunities:
1) More competition and more specialist co-operation in order to meet the Competition
2) Islamic trust services
3) Life insurance
4) Index funds
5) Estate planning / administration and family succession addressing forced succession
6) Loans, including consumer financing, Islamic mortgages and Islamic charge cards.
7) Tax planning, including Zakat
8) Other

Boom Time For Private Bankers

Over 30 banks have booking centres in Singapore, enabling wealthy types globally to register assets and take advantage of its low taxes and favorable regulations. An estimated US$250bn of assets are now booked in the Lion City – double the level of two years ago.

This growth is attracting new players, with Nomura Wealth Management, BHI Switzerland and Standard Chartered among those to open offices in 2007. Swiss bank Julius Baer has also recently announced plans to expand in South East Asia, making Singapore its hub.

At the same time, salaries have increased due to rising competition for business and talent. Recruiters estimate compensation has risen between 20% and 40% in the past two years.

"Banks are increasing salaries and bonuses, especially sign-on bonuses, to get people on board," explains Nick Hughes, manager of front-office banking at Singapore's ConnectedGroup. "Recruitment is focused on getting skilled relationship managers, as they're responsible for winning business. A junior could expect to earn S$70k to S$100k in overall compensation; a mid-level banker might earn S$100k to S$160k; while the most experienced candidates could earn around S$500k."

Hughes believes consolidation is inevitable and as a result expects only moderate salary increases this year. He does, however, believe the overall outlook remains positive. "Banks are looking to expand into new areas, with money moving into Singapore from other Asian countries and Europe, particularly London and Switzerland. This is one reason growth should continue over the next three to four years," he concludes.

Last year, Singapore saw the fastest increase globally in the number of high-net-worth individuals according to the annual World Wealth Report by Merrill Lynch and Capgemini. Reuters reports that the number of people with more than US$1m in financial assets excluding their home rose 21% to 66,660.

LAYANAN PRIVATE BANKING DAN WEALTH MANAGEMENT

Bank sebagai lembaga yang berfungsi amat penting, sebagai mediator antara pihak yang mempunyai dana dan pihak yang membutuhkan, tidak dapat membatasi dirinya dengan usaha penempatan dana pada sisi aktiva saja, baik karena kapasitas Bank sendiri dengan jaringannya yang luas-keahlian yang sangat memadai dibidang keuangan; peralatan yang begitu canggih; administrasi yang lebih teratur dibandingkan lembaga lainnya; maupun karena permintaan masyarakat banyak, maka Bank juga harus memberikan jasa-jasa umum yang dibutuhkan masyarakat.

Memahami masyarakat sebagai client berarti melakukan usaha agar dapat menyesuaikan dengan mereka sebagai individual-individual, bahkan apabila client adalah suatu perusahaan yaitu dalam memutuskan apa yang mereka inginkan dan butuhkan. Terkadang client tidak sepenuhnya mengerti kebutuhan mereka sendiri atau dimana layanan bank dapat memuaskan kebutuhan mereka. Jadi Bank harus mengetahui dan mengerti clientnya dengan cukup baik untuk mengarahkan mereka dengan cara yang pantas.

Dewasa ini bank-bank asing dan lokal papan atas berlomba-lomba menyediakan produk layanan yang diperuntukkan bagi individu kalangan atas yang disebut dengan layanan “Private Banking atau Wealth Management”, dimana dalam jenis layanan ini bank memperlakukan client dengan sangat istimewa dibandingkan dengan layanan atau produk unggulan perbankan lainnya .

Di Indonesia Jenis layanan pengelolaan kekayaan khusus bagi client kelas atas ini ini hanya dapat dilakukan oleh bank-bank papan atas yang memiliki jaringan yang luas serta basis client yang besar, dan sasaran dari layanan ini adalah masyarakat super kaya, yang biasanya karena kesibukan bisnis yang luar biasa para client kelas ini dapat memanfaatkan layanan Private Banking untuk melakukan berbagai transaksi tanpa harus meninggalkan kesibukannya. Dalam layanan ini client mendapatkan advisory khusus sebelum memutuskan kemana uangnya diputar oleh bank yang bersangkutan apakah dalam bentuk produk tradisional perbankan seperti deposito dan giro,instrumen investasi seperti reksadana dan obligasi atau layanan lainnya yang tidak terkait dengan keuangan seperti pengurusan sekolah ke luar negeri, pembelian ticket pesawat, fashion & music show, turnamen golf dan sebagainya Layanan khusu ini di Indonesia ada yang menyebutnya; Priority Banking, Private Banking, Prefered Banking, Privilage Banking atau juga Wealth Management.

Private Banking sendiri bukan merupakan jenis layanan baru karena unsur-unsur, bentuk, gaya dan sifat produk layanan bank ini sudah muncul pada sekitar abad 18 di bank-bank Negara Swiss yang dalam sejarahnya merupakan cikal bakal atau akar dari terbentuknya jenis layanan Private Banking ini yang kemudian berkembang pada bank-bank di negara-negara lain di luar negeri dan mengalami perkembangan dan ekspansi yang sangat pesat pasca perang dunia kedua. Meskipun bentuk layanannya masih bersifat tradisional, layanan Private banking ini sudah lama menjadi salah satu produk jasa perbankan yang sudah dilakukan dan telah jauh berkembang dalam bank-bank asing diberbagai negara atau diluar negeri hingga saat ini, namun baru marak di Indonesia dewasa ini.

Faktor utama yang memberikan sumbangan bagi kesuksesan negara Swiss baik sebagai pusat keuangan internasional dan dalam mendorong lingkungan dimana Private Banking berkembang ialah karena situasi dan kondisi yang sangat mendukung yaitu stabilitas politik, stabilitas moneter, nilai mata uang yang kuat, netralitas yang menghalangi pemblokiran rekening untuk alasan politik dan adanya pengakuan tidak adanya tindakan musuh yang mengancam, rahasia bank yang sangat kuat dan sulit ditembus karena kuatnya perlindungan terhadap rahasia bank, kondisi geografisnya sebagai pusat dari benua Eropa, sistim hukumnya yang lebih simple, pegawai yang terlatih dengan baik dan menguasai bermacam-macam bahasa.

Industri Private Banking menjalani suatu proses perubahan dalam tahun-tahun belakangan dan terus berlanjut dalam memenuhi sejumlah penyediaan dan faktor-faktor kebutuhan termasuk perkembangan komposisi dan ukuran pasar, type baru client, masuknya type pemain baru, faktor peraturan, globalisasi pasar keuangan, tingkat teknologi dan perubahan dalam industry perbankan sebagai suatu keseluruhan.

Pada dasarnya sasaran pemasaran layanan private banking ditujukan antara lain pada pengusaha, politisi, para senior eksekutif suatu perusahaan, orang kaya baru, spekulan kaya, dan sebagainya sedangkan produk atau layanan yang ditawarkan layanan Private Banking antara lain meliputi bank secrecy, trust / tax advice, deposito atau simpanan wholesale, layanan secara personal yang luar biasa, real estate services, pengelolaan kekayaan, transaksi securitas, nasihat investasi dengan kualitas tertinggi, foreign exchange, kredit, perencanaan keuangan, layanan advisory, trust dan sebagainya.

Pada masa awal perbankan, bank bertindak hanya sebagai penyimpan dana clientnya. Pada masa modern bank memperluas layanan mereka dengan baik melebihi peran tersebut dan banyak bank pada saat ini secara terbuka mengumumkan kenyataan bahwa mereka maupun untuk memberikan nasihat investment (advice of investment).

Private Banking modern bukan merupakan aktivitas tunggal tetapi terdiri dari kelompok bisnis yang sangat berbeda yang ditargetkan bagi pangsa client yang berbeda. Kualitas yang tinggi atas layanan yang berbeda membentuk inti dari Private Banking. Komponen kunci dari Private Banking ini terdiri dari tailoring services atas permintaan client, antisipasi kebutuhan client, orientasi pada hubungan jangka panjang, kontak pribadi dan keleluasaan.

Produk-produk yang ditawarkan dalam Private Banking antara lain terbagi dalam beberapa jenis yaitu; Produk konvensional yang meliputi produk perbankan standar seperti produk dana, investmen product dan jasa-jasa lainnya. Disamping itu produk yang menjadi unggulan dalam Private Banking adalah produk non konvensional berupa wealth management services.

Adapun layanan Private Banking yang utama meliputi :

1)Pengelolaan uang tunai atau rekening modal yang antara lain meliputi seluruh jenis layanan bank, credit card, buku cek, pinjaman, deposit dengan berbagai mata uang, layanan treasury dan lain-lain

2)Rekening investasi, antara lain meliputi layanan jual beli saham, fasilitas managemen investasi dimana dana / kekayaan klien diinvestasikan dengan leluasa berdasarkan dokumen perjanjian investasi yang disetujui klient, layanan advisory dengan tingkat yang lebih canggih atas portfolio yang diinvest, dan lain-lain

3)Pengelolaan portfolio antara lain meliputi investasi dalam dana yang dikelola private banking, portfolio dikelola oleh private banking atau manager investasi yang ahli, portfolio yang disusun sesuai dengan kebutuhan klien tergantung kekayaan yang dimilikinya dan tingkat dana yang dikelola dan dalam hal ini klien dapat berperan secara aktif dan pasif dalam pengelolaan dana ini

3)Layanan investment antara lain meliputi layanan analisa dan laporan keadaan pasar, laporan pelaksanaan, administrasi pembayaran deviden, layanan custody dan lain-lain

4)Layanan Trust yang meliputi trustesheep, produk asuransi, layanan trust perusahaan, perencanaan hak milik, pajak dan lain-lain

5)Layanan konsultasi antara lain meliputi layanan pengelolaan keuangan dan traesury, advis pengelolaan investasi, risiko politik, foreign exchange, aktivitas hedge fund,layanan derivatif dan lain-lain

6)Personal portfolio manager yang merupakan pengelolaan hubungan dengan klien. Kepada setiap client diberikan manager portfolio masing-masing untuk memberikan advis mengenai kondisi pasar dan pilihan atas portfolionya. Dan;

7)Layanan lain-lain yang personalized dan customized.

Dalam Private Banking ini klien dapat meminta layanan private banking untuk mengatur kekayaannya secara pribadi maupun keluarganya dan untuk membiayai dan mengembangkan kebutuhan bisnis mereka. Untuk memenuhi kebutuhan ini bank harus menggabungkan peranannya tidak hanya terbatas pada bank komersil saja seperti bank-bank pada umumnya tetapi juga harus bertindak sebagai investment bank, penasihat pajak, pengacara, akuntansi dan pengelola kekayaan.

Layanan Private Banking memiliki keistimewaan yang berbeda dari produk unggulan perbankan lainya yaitu :

Confidentiality
Sifat kerahasiaan ini merupakan sifat ketidakterbukaan atas informasi keuangan klien karena banyaknya klien yang menginginkan kerahasiaan atas informasi asset atau asset yang dititipkan dalam private banking tetap terjaga sehingga tidak dapat diketahui oleh pihak lain misalnya dari lawan bisnisnya, kreditur, pelanggannya atau ahli warisnya.

Sifat rahasia inilah yang merupakan daya tarik bagi klien Private Banking karena mereka memiliki berbagai alasan untuk merahasiakan keadaan keuanganya melalui Private Banking misalnya karena : 1)Motiv politik, khususnya apabila keadaan politik negara sedang tidak stabil, Alasan bisnis untuk menjaga agar kreditur dan / atau pesaing tidak mengetahui total keuntungan operasi perusahaan; 2)Motive pribadi misalnya untuk menjaga masa depan ahli waris atas harta warisan; 3)Motiv bisnis misalnya klien tidak ingin lawan bisnisnya, atau kreditur mengetahui asset atau keadaan keuangan yang sebenarnya

Dalam hal ini asset dipegang dengan nama trustee dan identitas serta kepentingan klien terjaga secara rahasia. Kerahasiaan ini terus berlanjut hingga trust diakhiri

Hubungan yang lebih pribadi antara client dengan private bankers
Perhatian pribadi dan kualitas layanan menjadi kebiasaan yang dibangun sejak lama dalam lingkup private banking. Untuk mengelola keuangan seseorang dengan baik maka harus diketahui pribadi orang yang bersangkutan dengan baik – kondisi keuangannya dan keluarganya, aspirasi individu, tingkah laku, kecenderungan, kekhawatiran, pertimbangan dan tingkah laku yang berisiko. Dalam menyesuaikan keakraban atau keintiman dengan klien dalam tingkat keuangan semacam itu disyaratkan keahlian dalam memberikan tingkat layanan yang unggul terhadap hubungan semacam itu.

Dalam sifat personality ini hubungan yang terjalin antara klien dengan private banker cenderung lebih dekat dan intens dengan petugas layanan jasa bank lainnya terutama karena para private bankers selalu siap kapan saja dan dimana saja untuk dihubungi oleh klien kapanpun klien membutuhkan layanan mereka.Karena itulah maka dalam layanan ini untuk satu orang klien disediakan satu orang privat banker atau relationship manager khusus dimana klien hanya akan berhubungan dengan privat bankers tertentu tersebut dan tidak bisa dialihkan kepada privat bankers yang lain dan hal ini juga dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan klien secara efektif.

Keleluasaan dalam pengelolaan asset
Keleluasaan yang merupakan sifat dasar Private Banking ini merupakan ciri khas layanan yang ditawarkan oleh private banking dalam mengelola asset kliennya yang berbeda dengan jenis produk layanan perbankan lainnya. Keleluasaan atau kebebasan bertindak dalam pengelolaan asset ini biasanya menjadi pusat dari Private Banking. Dalam hal ini private banker mengelola aset klien secara individu secara tegas dalam suatu pedoman dan mandat yang telah disetujui klien. Pedoman tersebut berdasarkan atas hasil proses pengumpulan informasi dan diskusi dengan klien selanjutnya. Untuk setiap client, relationshipmanager akan bekerja secara tertutup dengan manager portfiolio untuk menjamin bahwa portfolio dikelola dan disesuaikan dengan kebutuhan klien secara pribadi.

Sifat keleluasaan merupakan kunci yang membedakan ciri private banking dan dapat dianggap sebagai produk tersendiri dan untuk itu charge yang dikenakan kepada klien relatif tinggi dan dapat meningkatkan fee untuk bank dan juga karena banyak diantara para klien meminta adanya sifat kerahasiaan yang lebih (more secrecy).

Layanan Private Banking dapat dikatakan bersifat unik dan dapat memenuhi kebutuhan para kliennya yang disesuaikan dengan keinginan mereka seperti layanan yang diberikan dalam bentuk advisory, discretionary, brokerage serta wealth management service dimana jenis layanan inilah yang membedakan private banking dari jenis layanan standar perbankan pada umumnya. Bahkan dalam layanan ini klien mendapatkan advisory khusus sebelum memutuskan kemana uangnya diputar oleh bank bersangkutan apakah itu dalam bentuk produk tradisional perbankan seperti deposito dan giro mauupun instrumen investasi seperti reksadana dan obligasi. Dalam hal ini privat bankers memberikan advis atau pertimbangan kepada klien apa yang dapat dilakukan klien dengan kekayaan yang dimilikinya termasuk risiko atau keuntungan yang dapat diperoleh client dalam melakukan sesuatu dengan uangnya tersebut untuk jangka pendek maupun sampai saat pensiun.

Ciri pelayanan pada private banking adalah sebagai berikut :
1)Client terdiri dari individu-individu yang bertindak untuk dan atas nama diri sendiri maupun untuk dan atas nama lembaga / perusahaan; 2)untuk setiap jasa/layanan yang diberikan, Client Private Banking dikenakan fee/biaya yang besarnya ditentukan sesuai negoisasi dengan client dan kondisi pasar saat itu dengan tetap mempertimbangkan win-win solution; 3)pelayanan kepada client diberikan secara personalized, customized dan terjaga privacy-nya; 4)Seorang client hanya dilayani oleh seorang Private Banker yaitu staf bank yang mengelola jasa Private Banking (One door service system); 5)Identitas client dilengkapi dengan secret identification code (SIC) dan hanya diketahui oleh Private Banker (PB) dan pemimpin unit terkait yang membawahi Private Banking. SIC paling tidak berisi informasi pokok tentang Client PRB, a.l Nama, tempat dan tgl lahir, serta domisili client, Nomor client yang unik, misalnya terdiri 9 (sembilan) digit sebagaimana password, Status dan jenis kelamin, bisnis yang sedang ditekuni client dan posisinya dalam bisnis tsb dan Informasi tambahan lainnya yang relevan yang bisa membuka peluang cross selling produk-produk Bank yang lain.

Acara-acara khusus dari yang bersifat ilmiah seperti talk-show tentang investasi, acara olah raga seperti turnamen golf dan acara hiburan seperti fashion show, hingga pertunjukan musik orkestra serta pameran lukisan, juga sering diadakan untuk orang-orang super kaya ini. +++

MALAYSIAN WEALTH MANAGEMENT

Foundation for Islamic WM Services

Sizeable and growing pool of local consumers provide economies of scale for Islamic financial services. Market include non-Muslims.
Constant innovation to introduce competitive Islamic financial products and services, which
Malaysia seems to have built a forte in.
Sizeable pool of latent international Islamic capital with potential to be attracted here in line with
Malaysia’s goal to be an international Islamic capital market centre.

State of Affairs of Islamic WM
In nascent stage of development compared to conventional market.

Islamic WM parallels of conventional WM products already available – savings, equities, debt, unit trusts, private equity, insurance, wills and trusts.
Advisory capability lagging – shortage of financial advisors with sound understanding of Islamic investing principles i.e. Syariah expertise on advisory council level has not cascaded down to other levels yet.
Platform for delivering Islamic WM service to be further developed.

Challenges in Islamic WM Services
Improving platform to offer the service and building Islamic investment advisory capabilities.
Continued product innovation to fill gaps compared to conventional WM e.g. in developing alternative investments and hedging / risk management instruments.
Developing
Malaysia as an offshore centre for international Islamic funds.
Continued collaboration with other Islamic jurisdictions so that products created here are acceptable to them.

Product Challenges Currently Faced in WM

To properly help enhance, protect and distribute wealth, service providers need adequate:

  • tools for hedging e.g. using futures and options;
  • diversification – across markets, asset classes and currencies;
  • trust service options – including choice of jurisdictions;
  • instruments to help clients enhance returns under varying market conditions, using products custom-made to their needs.

The situation until very recently:

  • products limited to single market and single currency;
  • service providers missing out on international product innovation due to inability to import products.

Landmark Events for Local WM

Product limitations will become less of an issue thanks to two recent developments.

These will enable new Wealth Management products to be introduced at an unprecedented pace.

The two developments:

Liberalization of Forex Administration Rules;

Revised Guidelines on Investment Linked to Derivatives (Structured Products) allowing greater flexibility and wider ranger range of products.

Liberalization of Forex Measures*

Aside from the obvious effect of allowing Malaysians to invest offshore, the liberalization has far-reaching effects on the local WM industry:

Foreign currency accounts now available locally;

Local fund managers can set up international funds for local and regional distribution;

Foreign products e.g. international unit trusts can be registered and distributed locally, and alternative instruments e.g. hedge funds and structured products;

Local intermediaries can offer trading in regional equities and bonds – once further regulatory amendments are made.

* - with effect from 1 April 2005

Structured Products – Key WM Offering

Revised Guidelines introduced this year:

  • allowing wider range of underlying assets based on onshore and offshore interest rates, indices and asset prices;
  • Lowered minimum transaction amount from RM1m to RM0.25m.

Structured products are hybrid securities combining fixed income with derivative instruments and offers exposure to non-traditional asset classes and instruments.

A key Wealth Management offering as:

they can be customized to meet specific investor needs;

they also give investors the opportunity to earn enhanced returns at all phases of the economic and investment cycle.

WM Products Available Locally

ASSET CLASSES

Cash Equities Bonds Real estate Forex Commodities

Unit trusts Managed Private Hedged REITs Structured

Funds Equity Funds products

Indirect Investment Instruments

Available locally Not Available Yet Source: CIMB PB

Next Stage – Regional WM Centre?

Can Malaysia develop into a regional Wealth Management Centre?

The more developed regional financial centres enjoy a head-start and certain structural advantages, but:

  • with earlier barriers already lifted, product availability and funds mobility will no longer be a handicap to providing holistic wealth management solutions in Malaysia;
  • Malaysia’s Islamic financial services capabilities could be a more telling factor differentiating it from other markets.

PERSAINGAN LAYANAN KHUSUS BAGI NASABAH SUPER KAYA DI INDONESIA

Dewasa ini, nasabah perbankan menginginkan 'bankers' yang dapat mengerti, memahami dan mempelajari (dari nasabah) keinginan nasabah secara spesifik serta menyediakan perhatian individual. Mengerti artinya mempelajari kebutuhan spesifik secara individu dan memberikan perhatian secara pribadi (personalized).

Terlebih lagi bagi nasabah-nasabah superkaya (Wealthy Client), dengan mempunyai jumlah asset/dana yang besar, mereka pun juga mempunyai kecenderungan untuk menuntut lebih banyak kepada setiap 'bankers'nya. Tuntutan untuk mendapatkan yang lebih bagi para nasabah super kaya ini (wealthy clients) tidak hanya mengenai services belaka, tetapi juga termasuk 'return on investment', keamanan, kenyamanan dan lainnya.

Pihak perbankan saat ini, dalam melayani kebutuhan 'wealthy clients', juga dituntut untuk memenuhi kebutuhan client baik dalam hal 'banking-needs' hingga hal yang bersifat 'non-banking needs'.

Wealth Management Services yang belakangan ini mulai berkembang di Indonesia, adalah merupakan antisipasi yang jitu dari kalangan perbankan untuk memenuhi segala keinginan para nasabah super kaya tersebut.

Dalam menjawab tantangan dan tuntutan dari 'wealthy clients' tersebut, Layanan Private Banking atau Wealth Management Services yang diberikan oleh perbankan saat ini, tidak hanya diberikan secara 'personalized dan customized' bagi wealthy client secara individual tetapi bahkan juga diperuntukan bagi keluarga dan generasi/keturunan client tersebut.

Wealth Management Services di Indonesia

Menyediakan produk dan jasa serta pemberian kemudahan fasilitas yang sesuai dengan perkembangan gaya hidup masyarakat, memang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat (khususnya 'wealthy client') untuk menjadi client suatu bank yang menyediakan layanan Wealth Management dan Private Banking. Apalagi saat ini client sebagai pengguna jasa membutuhkan pelayanan yang cepat-akurat serta produk dan jasa yang up-to-date seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan sektor keuangan yang semakin canggih.

Layanan Wealth Management dan Private Banking, memang cukup menjanjikan bagi perkembangan dunia Perbankan di Indonesia saat ini, selain dari peluang untuk mendapatkan fee based income yang cukup besar, karakter dana client-cient Wealth Management dan Private Banking juga cenderung lebih banyak ke jangka panjang (long-term growth).

Peluang untuk mendapatkan bisnis dari pasar Wealth Management dan Private Banking cukuplah menjanjikan, selain dari potensi pasarnya di Indonesia yang sangat besar, selain itu, karakter dari para individu nasabah super kaya (High Networth Client) yang cenderung untuk tidak hanya memilih 1 (satu) bank dalam memenuhi kebutuhannya tersebut, juga merupakan entry-point yang layak untuk dimanfaatkan.

Memang, jika kita melihat kondisi pasar Wealth Management dan Private Banking saat ini, tampak bahwa Bisnis Wealth Management dan Private Banking di Indonesia didominasi oleh Perbankan Asing (yaitu sekitar 80% dari market share). Produk dan service yang disediakan oleh Layanan Wealth Management dan Private Banking Lokal (Local Private Banking) tertinggal jauh dibanding Layanan yang disediakan oleh Perbankan Asing (Foreign Private Banking). Sebagai contoh, Citibank Private Banking mempunyai 600 lebih macam produk dan service yang disediakan bagi client-clientnya.

Namun demikian, bukan berarti peluang bagi Local Private Banking untuk masuk dan terjun dalam bisnis ini sudah tertutup sama sekali. Karena, dalam bisnis Wealth Management dan Private Banking, selain produk dan jasa yang disediakan, hubungan personal (personal relationship) antara 'client' dan 'Private Bankers'nya adalah merupakan fondasi dasar dalam bisnis ini (trust).

Sehingga, walaupun Foreign Private Banking unggul dalam penyediaan produk dan jasa di bisnis ini, justeru Local Private Banking lebih punya peluang besar dalam hal membina hubungan (personal relationship) dengan High Networth Client's tersebut.

Foreign Private Banking yang masuk ke pasar Private Banking di Indonesia mayoritas merupakan Private Banking yang berkantor di Singapura, sehingga Relationship Manager atau Private Bankers nya lebih banyak berdomisili di Singapura.
Sebagai contoh; MeesPierson Private Banking (Fortis) biasanya mengirim Private Bankers nya dari Singapura ke Jakarta khusus untuk melayani client-clientnya dalam bertransaksi.

Foreign Private Bankers, biasanya dalam seminggu, 2 (dua) hari di Jakarta dan 3 (tiga) hari di Singapura.
Sedangkan, Local Private Bankers justeru lebih punya banyak peluang dan waktu untuk menemui dan membina hubungan dengan para nasabah super kaya tersebut.

Sehingga, dengan mempunyai kelebihan dalam hal pembinaan 'personal relationship', Local Private Banking sebenarnya juga mempunyai peluang besar dalam menggarap dan mendapatkan bisnis dari para nasabah super kaya yang ada di Indonesia.

Peluang Local Private Bankers

Seorang ‘Private Banker’ yang baik adalah merupakan seseorang pendengar yang baik (Good Listener).

Oleh karena itu, dengan memiliki peluang lebih banyak waktu bertemu dengan client, dengan lebih banyak peluang untuk mendengar segala keluh-kesah dan keinginan client, maka Local Private Bankers diharapkan akan lebih mampu dalam memahami gaya hibup dan segala kebutuhan client. Sehingga kualitas hubungan dengan client (personal relationship) akan lebih terjalin erat, yang secara langsung akan lebih menciptakan kenyamanan bagi para client untuk dilayani oleh ‘private bankers’ tersebut, dan pada akhirnya akan lebih menciptakan banyaknya peluang-peluang bisnis yang dapat digarap oleh para ‘local private bankers’.

Sedangkan kendala dalam hal penyediaan alternative produk dan jasa private banking sebenarnya dapat diatasi dengan mudah, yaitu dengan melakukan sebanyak-banyaknya (yang sudah tentu dilakukan secara teliti) ‘cross-selling’ produk dan jasa dengan pihak penyedia produk dan jasa lainnya baik didalam maupun diluar negeri.

Jadi, sebenarnya kekhawatiran bahwa Foreign Private Bankers akan lebih menguasai pasar private banking di Indonesia dengan sendirinya dapat diatasi oleh dunia perbankan lokal di Indonesia. Namun demikian, sudah tentu upaya yang harus dilakukan terlebih dahulu (dan tidak kalah pentingnya dengan masalah peningkatan ‘personal relationship’ dengan client), adalah mensejajarkan tingkat kemampuan para local private bankers dengan foreign private bankers, atau setidaknya adalah harus ada upaya yang serius dalam melakukan up-dating dan up-grading kemampuan para local private bankers yang ada.

Selain itu, meningkatkan kemampuan system dan teknologi dalam pelaku bisnis private banking lokal juga harus dilakukan secara lebih serius dan lebih cepat.

Oleh karena itu, dua hal penting tersebut diatas sudah seharusnya diupayakan oleh para penyedia jasa private banking di Indonesia, yaitu sebagai sarana untuk mewujudkan kenyamanan para client-client private banking dalam melakukan transaksi, yang pada akhirnya adalah akan menghasilkan pendapatan (fee based income) dan sumber dana jangka panjang (source of fund) bagi penyedia jasa private banking di Indonesia.

Selasa, 01 Januari 2008

KELUARGA BIJAK MELAHIRKAN ANAK YANG BIJAK

Pesatnya kemajuan teknologi keuangan di Indonesia saat ini telah menciptakan kondisi semakin mudahnya seseorang mendapatkan akses keuangannya (unpresedented access to money). Saat ini banyak perbankan yang memasang mesin-mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) di sekolah-sekolah dan perumahan, dan semakin banyaknya para Orang Tua yang memberikan fasilitas kartu kredit kepada anak-anaknya.

Bahkan, bagi sebagian besar orang-tua di Indonesia saat ini, dikarenakan oleh kesibukan pekerjaannya, kalimat yang cenderung sering dilontarkan kepada anak mereka ketika membicarakan permasalahan keuangan adalah hanya berupa; “seberapa besar uang yang kamu butuhkan ?”.

Inilah yang merupakan kesalahan besar para orang tua di Indonesia saat ini. Padahal uang bukanlah hanya sekedar alat bayar belaka bagi anak-anak mereka. Uang adalah merupakan hal yang kompleks, dan bahkan dapat mempengaruhi perkembangan kejiwaan anak-anak mereka tersebut.

Semakin ramainya iklan dan promosi barang-barang konsumtif menyerbu masyarakat modern Indonesia, turut ikut memacu semakin besarnya hasrat anak-anak dan remaja saat ini untuk berprilaku konsumtif. Bahkan barang atau komoditi yang dahulu dipandang sebagai barang mewah, saat ini seakan sudah menjadi kewajaran bagi masyarakat umum untuk membeli dan menggunakannya.

Sangat disayangkan bahwa masih cukup banyak masyarakat kita saat ini yang belum mempunyai (kurang memiliki) kesadaran dalam memberikan pengetahuan dasar mengenai pengelolaan penggunaan uang sejak dini kepada anak-anaknya. Kurangnya pembelajaran sejak dini kepada anak-anak dan remaja, menyebabkan mereka kurang pandai dalam mengambil keputusan ketika menggunakan uang.

Setidaknya, para orang tua tersebut hendaknya mengupayakan waktu yang cukup ketika hendak berbicara mengenai uang kepada anak mereka, karena uang akan mengandung hal yang cukup kompleks.

Memang pembelajaran mengenai keuangan sejak dini terhadap anak-anak di Indonesia secara formal masih merupakan hal yang sangat sulit untuk didapatkan, walaupun masalah ini (financial illiteracy) sudah sejak 20 tahun yang lalu dilakukan secara formal di dunia pendidikan di Amerika Serikat.

Namun demikian, pembelajaran sejak dini ini sebenarnya dapat dilakukan dengan cara-cara yang sangat mendasar terlebih dahulu, yaitu sejak dini anak-anak tersebut diberikan pengetahuan dasar dalam hal mengontrol cara mereka membelanjakan uang.

Pembelajaran ini dilakukan dengan menanamkan kepada anak-anak sejak dini untuk dapat membedakan antara ’Kebutuhan’ dan ’Keinginan’ (wants and needs) mereka dalam membelanjakan uangnya.

’Kebutuhan’ adalah merupakan suatu keharusan atau bersifat mutlak, sedangkan ’Keinginan’ adalah merupakan suatu pilihan dan bukanlah merupakan hal yang wajib dilakukan.

Dengan menanamkan pengertian dasar tersebut diatas, maka secara langsung kita juga telah mengajarkan mereka sejak awal untuk menjadi bijak dalam membelanjakan uangnya.

Selain itu, hal lain yang sangat penting yang harus diingat oleh para orang-tua dalam pembelajaran dini mengenai keuangan kepada anak-anak ini adalah bahwa ‘cara pembelajaran yang baik adalah dengan cara menjadi teladan (role-model) yang baik bagi anak-anak mereka sendiri’.

Harap diingat bahwa saat ini ‘sex-education’ saja sudah diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak (sesuai dengan levelnya), oleh karena itu pembelajaran mengenai keuangan-pun sudah seharusnya juga diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak kita.

Buanglah pendapat kuno bahwa adalah merupakan hal yang kurang baik untuk mengenalkan uang sejak dini kepada anak-anak.

MENGUPAYAKAN KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK BAGI ANAK-ANAK KITA

Mengupayakan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak di masa depan adalah merupakan harapan kebanyakan para orang tua dimuka bumi ini.
Namun demikian, upaya mulia para orang tua tersebut, untuk saat ini bukanlah merupakan hal yang mudah.

Generasi penerus kita saat ini dan khususnya para anak-anak kita, menghadapi kondisi ekonomi yang jauh berbeda dibanding para orang tuanya dan generasi pendahulunya, -- hal tersebut dewasa ini ditandai dengan semakin ketatnya persaingan global, bursa lowongan kerja yang tidak pasti, kredit dan pembiayaan konsumtif yang semakin mudah didapat (semakin merangsang tingkat konsumtif), berkurangnya manfaat pensiun dan membanjirnya produk-produk investasi (dengan segala bentuk resiko yang melekat) yang menyebabkan semakin kompleksnya pengelolaan uang dari hari ke hari.

Kondisi saat ini memang sangat kompleks dan cukup mengkhawatirkan, namun sekaligus merupakan hal yang menantang karena memiliki potensi manfaat yang besar bagi generasi muda yang dibekali dengan pengetahuan yang memadai untuk mengalihkan resiko kompleksitas kondisi ini menjadi hal yang menguntungkan baginya.

Dalam upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi para generasi penerus kita di masa depan tersebut, beberapa tips berikut ini diharapkan akan dapat membantu anda sebagai orang tua untuk mewujudkan harapan anda yang mulia tersebut:

Tips Pertama : Jelaskan New Money Rules kepada anak anda.
Pesatnya kemajuan teknologi keuangan di Indonesia saat ini telah menciptakan kondisi semakin mudahnya seseorang mendapatkan akses keuangannya (unpresedented access to money). Saat ini banyak perbankan yang memasang mesin-mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) di sekolah-sekolah dan perumahan, dan semakin banyaknya para Orang Tua yang memberikan fasilitas kartu kredit kepada anak-anaknya. Anak-anak kita tumbuh di dunia dengan kecanggihan teknologi yang memungkinkan uang digantikan dengan selembar kartu debit/kredit.

Tetapi, karena penggunaan uang secara langsung dalam bertransaksi semakin jarang,, sehingga anak-anak sekarang cukup banyak yang tidak memahami dan mengalami langsung bagaimana suatu transaksi finansial terjadi, terlebih lagi pada saat ini cukup banyak para orang tua yang tidak memberikan penjelasan yang cukup tentang dasar-dasar pengelolaan uang.

Padahal, dengan menanamkan dasar-dasar pengelolaan uang tersebut diatas, maka secara langsung kita juga telah mengajarkan mereka sejak awal untuk menjadi bijak dalam membelanjakan uangnya.

Pembelajaran sejak dini kepada anak-anak mengenai uang ini dapat dilakukan setidaknya dengan memberikan penjelasaan kepada anak anda pada saat anda melakukan transaksi keuangan sehari-hari. Pada saat melakukan penarikan ATM, jelaskan kepadanya bahwa uang yang ditarik tersebut adalah uang hasil kerja keras anda yang ditabung di bank.

Jelaskan kepada anak-anak bahwa anda membandingkan harga dan kualitas suatu barang dengan barang lain sebelum memutuskan untuk membeli suatu barang di toko. Jika anda membayar dengan menggunakan kartu debit, jelaskan bahwa uang yang dipakai untuk membayar diambil dari saldo rekening anda. Sedangkan jika anda membayar dengan kartu kredit maka anda akan menerima tagihannya yang harus dilunasi nanti.

Seiring dengan bertambahnya usia anak anda, tambahkan informasi yang lebih detil dan kompleks, seperti konsep bunga dan denda keterlambatan.

Dalam memberikan pembelajaran sejak dini kepada anak-anak mengenai uang ini, libatkan secara langsung anak anda dalam semua aktivitas finansial anda. Jika mungkin jadikan aktivitas itu suatu permainan yang menyenangkan baginya.

Tips Kedua : Fight the spend trend (jangan ikut-ikutan menjadi konsumtif).
Semakin ramainya iklan dan promosi barang-barang konsumtif menyerbu masyarakat modern Indonesia saat ini, turut ikut memacu semakin besarnya hasrat anak-anak untuk berprilaku konsumtif. Bahkan barang atau komoditi yang dahulu dipandang sebagai barang mewah, saat ini seakan sudah menjadi kewajaran bagi masyarakat umum untuk membeli dan menggunakannya.

Salah satu cara untuk melawan godaan iklan adalah dengan menjadikan menabung sebagai kebiasaan sedini mungkin. Mulailah dengan menabung di celengan, lebih disukai celengan yang transparan sehingga anak anda dapat melihat uang yang telah ditabungnya bertambah semakin banyak. Apabila celengan telah penuh, pindahkan uangnya ke rekening tabungan di bank.

Bila anak anda semakin besar, berikan uang saku yang harus dikelolanya sendiri. Ajarkan anak anda untuk menyisihkan sebagian dari uang tersebut untuk membeli kebutuhannya sendiri misalnya mainan. Bantulah dia untuk membuat perencanaan seberapa besar uang yang ditabung, untuk berapa lama, berapa hasil tabungan tersebut nantinya. Dengan ini maka anda telah mengenalkan ideologi menabung kepada anak anda.

Ajaklah seluruh anggota keluarga untuk ikut menabung.

Tips Ketiga : Hone their competitive edge (asahlah kemampuan bersaing mereka).
Sejak awal, para orang-tua harus mempersiapkan anak-anak anda agar fleksibel dan tangguh menghadapi tantangan.

Didiklah sifat kewirausahaan sejak dini kepada anak-anak tersebut. Doronglah mereka agar mau terlibat dalam kegiatan yang menghasilkan uang seperti obral mainan bekas atau mencuci mobil. Diskusikan berbagai aspek dari suatu bisnis, seperti bagaimana memasarkannya dan penetapan harga jual yang menghasilkan laba.

Para orang tua dituntut untuk mampu mengasah keampuan bersaing anak-anaknya (competitiveness), karena dengan kondisi bursa lowongan kerja yang tidak dapat ditebak dan kondisi perekonomian yang terus berubah dimasa depan, kita sebagai orangtua tidak akan pernah tahu lapangan pekerjaan apa yang akan sangat dibutuhkan pada generasi mendatang.

Tips Keempat : Usahakan meraih jenjang pendidikan setinggi mungkin
Bursa lapangan kerja pada masa lalu mungkin hanya mensyaratkan angkatan kerja dengan jenjang pendidikan sarjana. Namun karena semakin banyaknya angkatan kerja dengan kualifikasi sarjana maka untuk generasi mendatang dibutuhkan kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi. Semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin baik posisi yang mungkin diraih oleh seorang tenaga kerja di tempat kerjanya.

Kualitas pendidikan juga berperan penting. Alumni dari universitas berkualitas mempunyai kesempatan yang lebih dalam menghasilkan gaji yang lebih besar dibanding alumni universitas yang kurang berkualitas.

Tips Kelima : Berikan juga bantuan kepada anak anda yang sudah dewasa.
Peran para orangtua sebagai guru dan mentor tidak berakhir walaupun anak anda telah beranjak dewasa. Tidak tertutup kemungkinan bahwa anak anda yang telah dewasa mungkin juga masih membutuhkan bantuan dari anda secara finansial.

Kebanyakan keluarga lebih menyukai memberikan uang kepada anaknya untuk membantu secara finansial daripada sekedar menumpuk kekayaan yang nantinya akan diberikan kepada anaknya dalam bentuk warisan.

Tetapi, dalam memberikan bantuan finansial kepada anak-anak yang sudah berusia dewasa ini, harus dilakukan secara berhati-hati. Karena, pemberian bantuan secara reguler dapat menyebabkan anak anda terbiasa dengan gaya hidup yang tidak mampu dibiayainya sendiri, dan mengindikasikan bahwa anak anda tidak dapat memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri.

Oleh karena itu, dalam memberikan bantuan finansial kepada anak-anak yang sudah berusia dewasa, hal yang ideal untuk dilakukan adalah seharusnya para orang tua menggunakan uangnya untuk membantu anak-anaknya menjadi mandiri, bukan untuk memelihara agar mereka dapat terus mandiri.

Jika bantuan finansial yang anda berikan dimaksudkan untuk suatu tujuan tertentu maka pastikan anak anda mengerti dengan jelas maksud bantuan tersebut, misalnya untuk membayar uang muka KPR.

Hal terbaik yang dapat dilakukan oleh para orang tua untuk membantu anak-anaknya menjadi mandiri secara finansial saat dewasa adalah dengan menjadi contoh yang baik bagi mereka (Role Model), karena anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan alami langsung.

Selain dari tips-tips tersebut diatas, hal yang sangat mendasar dan penting untuk dipahami oleh para orangtua dalam memberikan pembelajaran sejak dini kepada anak-anak mengenai uang, sehingga anak-anak tersebut akan berhasil mendapatkan taraf kehidupan yang lebih baik dimasa depan, adalah :

1. Berikan pembelajaran mengenai uang sejak dini kepada anak-anak kita, karena dengan demikian maka secara langsung kita juga telah mengajarkan mereka sejak awal untuk menjadi bijak dalam membelanjakan uangnya.

2. Pastikan anak-anak kita untuk menjadi generasi yang mandiri secara financial, sehingga mereka akan mendapatkan taraf kehidupan yang lebih baik dimasa depan dibanding generasi sebelumnya.

3. Sebagai orang tua berilah contoh yang baik karena akan diteladani oleh anak-anak nantinya (Role Model). Jika kita sebagai orang-tua belum pernah memberi contoh yang baik, maka mulailah dari sekarang untuk menjadi contoh yang baik.