Selasa, 01 Januari 2008

KELUARGA BIJAK MELAHIRKAN ANAK YANG BIJAK

Pesatnya kemajuan teknologi keuangan di Indonesia saat ini telah menciptakan kondisi semakin mudahnya seseorang mendapatkan akses keuangannya (unpresedented access to money). Saat ini banyak perbankan yang memasang mesin-mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) di sekolah-sekolah dan perumahan, dan semakin banyaknya para Orang Tua yang memberikan fasilitas kartu kredit kepada anak-anaknya.

Bahkan, bagi sebagian besar orang-tua di Indonesia saat ini, dikarenakan oleh kesibukan pekerjaannya, kalimat yang cenderung sering dilontarkan kepada anak mereka ketika membicarakan permasalahan keuangan adalah hanya berupa; “seberapa besar uang yang kamu butuhkan ?”.

Inilah yang merupakan kesalahan besar para orang tua di Indonesia saat ini. Padahal uang bukanlah hanya sekedar alat bayar belaka bagi anak-anak mereka. Uang adalah merupakan hal yang kompleks, dan bahkan dapat mempengaruhi perkembangan kejiwaan anak-anak mereka tersebut.

Semakin ramainya iklan dan promosi barang-barang konsumtif menyerbu masyarakat modern Indonesia, turut ikut memacu semakin besarnya hasrat anak-anak dan remaja saat ini untuk berprilaku konsumtif. Bahkan barang atau komoditi yang dahulu dipandang sebagai barang mewah, saat ini seakan sudah menjadi kewajaran bagi masyarakat umum untuk membeli dan menggunakannya.

Sangat disayangkan bahwa masih cukup banyak masyarakat kita saat ini yang belum mempunyai (kurang memiliki) kesadaran dalam memberikan pengetahuan dasar mengenai pengelolaan penggunaan uang sejak dini kepada anak-anaknya. Kurangnya pembelajaran sejak dini kepada anak-anak dan remaja, menyebabkan mereka kurang pandai dalam mengambil keputusan ketika menggunakan uang.

Setidaknya, para orang tua tersebut hendaknya mengupayakan waktu yang cukup ketika hendak berbicara mengenai uang kepada anak mereka, karena uang akan mengandung hal yang cukup kompleks.

Memang pembelajaran mengenai keuangan sejak dini terhadap anak-anak di Indonesia secara formal masih merupakan hal yang sangat sulit untuk didapatkan, walaupun masalah ini (financial illiteracy) sudah sejak 20 tahun yang lalu dilakukan secara formal di dunia pendidikan di Amerika Serikat.

Namun demikian, pembelajaran sejak dini ini sebenarnya dapat dilakukan dengan cara-cara yang sangat mendasar terlebih dahulu, yaitu sejak dini anak-anak tersebut diberikan pengetahuan dasar dalam hal mengontrol cara mereka membelanjakan uang.

Pembelajaran ini dilakukan dengan menanamkan kepada anak-anak sejak dini untuk dapat membedakan antara ’Kebutuhan’ dan ’Keinginan’ (wants and needs) mereka dalam membelanjakan uangnya.

’Kebutuhan’ adalah merupakan suatu keharusan atau bersifat mutlak, sedangkan ’Keinginan’ adalah merupakan suatu pilihan dan bukanlah merupakan hal yang wajib dilakukan.

Dengan menanamkan pengertian dasar tersebut diatas, maka secara langsung kita juga telah mengajarkan mereka sejak awal untuk menjadi bijak dalam membelanjakan uangnya.

Selain itu, hal lain yang sangat penting yang harus diingat oleh para orang-tua dalam pembelajaran dini mengenai keuangan kepada anak-anak ini adalah bahwa ‘cara pembelajaran yang baik adalah dengan cara menjadi teladan (role-model) yang baik bagi anak-anak mereka sendiri’.

Harap diingat bahwa saat ini ‘sex-education’ saja sudah diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak (sesuai dengan levelnya), oleh karena itu pembelajaran mengenai keuangan-pun sudah seharusnya juga diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak kita.

Buanglah pendapat kuno bahwa adalah merupakan hal yang kurang baik untuk mengenalkan uang sejak dini kepada anak-anak.

MENGUPAYAKAN KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK BAGI ANAK-ANAK KITA

Mengupayakan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak di masa depan adalah merupakan harapan kebanyakan para orang tua dimuka bumi ini.
Namun demikian, upaya mulia para orang tua tersebut, untuk saat ini bukanlah merupakan hal yang mudah.

Generasi penerus kita saat ini dan khususnya para anak-anak kita, menghadapi kondisi ekonomi yang jauh berbeda dibanding para orang tuanya dan generasi pendahulunya, -- hal tersebut dewasa ini ditandai dengan semakin ketatnya persaingan global, bursa lowongan kerja yang tidak pasti, kredit dan pembiayaan konsumtif yang semakin mudah didapat (semakin merangsang tingkat konsumtif), berkurangnya manfaat pensiun dan membanjirnya produk-produk investasi (dengan segala bentuk resiko yang melekat) yang menyebabkan semakin kompleksnya pengelolaan uang dari hari ke hari.

Kondisi saat ini memang sangat kompleks dan cukup mengkhawatirkan, namun sekaligus merupakan hal yang menantang karena memiliki potensi manfaat yang besar bagi generasi muda yang dibekali dengan pengetahuan yang memadai untuk mengalihkan resiko kompleksitas kondisi ini menjadi hal yang menguntungkan baginya.

Dalam upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi para generasi penerus kita di masa depan tersebut, beberapa tips berikut ini diharapkan akan dapat membantu anda sebagai orang tua untuk mewujudkan harapan anda yang mulia tersebut:

Tips Pertama : Jelaskan New Money Rules kepada anak anda.
Pesatnya kemajuan teknologi keuangan di Indonesia saat ini telah menciptakan kondisi semakin mudahnya seseorang mendapatkan akses keuangannya (unpresedented access to money). Saat ini banyak perbankan yang memasang mesin-mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) di sekolah-sekolah dan perumahan, dan semakin banyaknya para Orang Tua yang memberikan fasilitas kartu kredit kepada anak-anaknya. Anak-anak kita tumbuh di dunia dengan kecanggihan teknologi yang memungkinkan uang digantikan dengan selembar kartu debit/kredit.

Tetapi, karena penggunaan uang secara langsung dalam bertransaksi semakin jarang,, sehingga anak-anak sekarang cukup banyak yang tidak memahami dan mengalami langsung bagaimana suatu transaksi finansial terjadi, terlebih lagi pada saat ini cukup banyak para orang tua yang tidak memberikan penjelasan yang cukup tentang dasar-dasar pengelolaan uang.

Padahal, dengan menanamkan dasar-dasar pengelolaan uang tersebut diatas, maka secara langsung kita juga telah mengajarkan mereka sejak awal untuk menjadi bijak dalam membelanjakan uangnya.

Pembelajaran sejak dini kepada anak-anak mengenai uang ini dapat dilakukan setidaknya dengan memberikan penjelasaan kepada anak anda pada saat anda melakukan transaksi keuangan sehari-hari. Pada saat melakukan penarikan ATM, jelaskan kepadanya bahwa uang yang ditarik tersebut adalah uang hasil kerja keras anda yang ditabung di bank.

Jelaskan kepada anak-anak bahwa anda membandingkan harga dan kualitas suatu barang dengan barang lain sebelum memutuskan untuk membeli suatu barang di toko. Jika anda membayar dengan menggunakan kartu debit, jelaskan bahwa uang yang dipakai untuk membayar diambil dari saldo rekening anda. Sedangkan jika anda membayar dengan kartu kredit maka anda akan menerima tagihannya yang harus dilunasi nanti.

Seiring dengan bertambahnya usia anak anda, tambahkan informasi yang lebih detil dan kompleks, seperti konsep bunga dan denda keterlambatan.

Dalam memberikan pembelajaran sejak dini kepada anak-anak mengenai uang ini, libatkan secara langsung anak anda dalam semua aktivitas finansial anda. Jika mungkin jadikan aktivitas itu suatu permainan yang menyenangkan baginya.

Tips Kedua : Fight the spend trend (jangan ikut-ikutan menjadi konsumtif).
Semakin ramainya iklan dan promosi barang-barang konsumtif menyerbu masyarakat modern Indonesia saat ini, turut ikut memacu semakin besarnya hasrat anak-anak untuk berprilaku konsumtif. Bahkan barang atau komoditi yang dahulu dipandang sebagai barang mewah, saat ini seakan sudah menjadi kewajaran bagi masyarakat umum untuk membeli dan menggunakannya.

Salah satu cara untuk melawan godaan iklan adalah dengan menjadikan menabung sebagai kebiasaan sedini mungkin. Mulailah dengan menabung di celengan, lebih disukai celengan yang transparan sehingga anak anda dapat melihat uang yang telah ditabungnya bertambah semakin banyak. Apabila celengan telah penuh, pindahkan uangnya ke rekening tabungan di bank.

Bila anak anda semakin besar, berikan uang saku yang harus dikelolanya sendiri. Ajarkan anak anda untuk menyisihkan sebagian dari uang tersebut untuk membeli kebutuhannya sendiri misalnya mainan. Bantulah dia untuk membuat perencanaan seberapa besar uang yang ditabung, untuk berapa lama, berapa hasil tabungan tersebut nantinya. Dengan ini maka anda telah mengenalkan ideologi menabung kepada anak anda.

Ajaklah seluruh anggota keluarga untuk ikut menabung.

Tips Ketiga : Hone their competitive edge (asahlah kemampuan bersaing mereka).
Sejak awal, para orang-tua harus mempersiapkan anak-anak anda agar fleksibel dan tangguh menghadapi tantangan.

Didiklah sifat kewirausahaan sejak dini kepada anak-anak tersebut. Doronglah mereka agar mau terlibat dalam kegiatan yang menghasilkan uang seperti obral mainan bekas atau mencuci mobil. Diskusikan berbagai aspek dari suatu bisnis, seperti bagaimana memasarkannya dan penetapan harga jual yang menghasilkan laba.

Para orang tua dituntut untuk mampu mengasah keampuan bersaing anak-anaknya (competitiveness), karena dengan kondisi bursa lowongan kerja yang tidak dapat ditebak dan kondisi perekonomian yang terus berubah dimasa depan, kita sebagai orangtua tidak akan pernah tahu lapangan pekerjaan apa yang akan sangat dibutuhkan pada generasi mendatang.

Tips Keempat : Usahakan meraih jenjang pendidikan setinggi mungkin
Bursa lapangan kerja pada masa lalu mungkin hanya mensyaratkan angkatan kerja dengan jenjang pendidikan sarjana. Namun karena semakin banyaknya angkatan kerja dengan kualifikasi sarjana maka untuk generasi mendatang dibutuhkan kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi. Semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin baik posisi yang mungkin diraih oleh seorang tenaga kerja di tempat kerjanya.

Kualitas pendidikan juga berperan penting. Alumni dari universitas berkualitas mempunyai kesempatan yang lebih dalam menghasilkan gaji yang lebih besar dibanding alumni universitas yang kurang berkualitas.

Tips Kelima : Berikan juga bantuan kepada anak anda yang sudah dewasa.
Peran para orangtua sebagai guru dan mentor tidak berakhir walaupun anak anda telah beranjak dewasa. Tidak tertutup kemungkinan bahwa anak anda yang telah dewasa mungkin juga masih membutuhkan bantuan dari anda secara finansial.

Kebanyakan keluarga lebih menyukai memberikan uang kepada anaknya untuk membantu secara finansial daripada sekedar menumpuk kekayaan yang nantinya akan diberikan kepada anaknya dalam bentuk warisan.

Tetapi, dalam memberikan bantuan finansial kepada anak-anak yang sudah berusia dewasa ini, harus dilakukan secara berhati-hati. Karena, pemberian bantuan secara reguler dapat menyebabkan anak anda terbiasa dengan gaya hidup yang tidak mampu dibiayainya sendiri, dan mengindikasikan bahwa anak anda tidak dapat memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri.

Oleh karena itu, dalam memberikan bantuan finansial kepada anak-anak yang sudah berusia dewasa, hal yang ideal untuk dilakukan adalah seharusnya para orang tua menggunakan uangnya untuk membantu anak-anaknya menjadi mandiri, bukan untuk memelihara agar mereka dapat terus mandiri.

Jika bantuan finansial yang anda berikan dimaksudkan untuk suatu tujuan tertentu maka pastikan anak anda mengerti dengan jelas maksud bantuan tersebut, misalnya untuk membayar uang muka KPR.

Hal terbaik yang dapat dilakukan oleh para orang tua untuk membantu anak-anaknya menjadi mandiri secara finansial saat dewasa adalah dengan menjadi contoh yang baik bagi mereka (Role Model), karena anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan alami langsung.

Selain dari tips-tips tersebut diatas, hal yang sangat mendasar dan penting untuk dipahami oleh para orangtua dalam memberikan pembelajaran sejak dini kepada anak-anak mengenai uang, sehingga anak-anak tersebut akan berhasil mendapatkan taraf kehidupan yang lebih baik dimasa depan, adalah :

1. Berikan pembelajaran mengenai uang sejak dini kepada anak-anak kita, karena dengan demikian maka secara langsung kita juga telah mengajarkan mereka sejak awal untuk menjadi bijak dalam membelanjakan uangnya.

2. Pastikan anak-anak kita untuk menjadi generasi yang mandiri secara financial, sehingga mereka akan mendapatkan taraf kehidupan yang lebih baik dimasa depan dibanding generasi sebelumnya.

3. Sebagai orang tua berilah contoh yang baik karena akan diteladani oleh anak-anak nantinya (Role Model). Jika kita sebagai orang-tua belum pernah memberi contoh yang baik, maka mulailah dari sekarang untuk menjadi contoh yang baik.

Perkembangan Kebijakan Pemerintah dan Perekonomian Indonesia

Kepercayaan thd Indonesia meningkat dipandang dari sisi posisi finansial yang sehat dan kemampuan membayar pinjaman LN. Dan diharapkan potensi pertumbuhan yang terkait dengan integrasi ekonomi dengan Cina diharapkan akan menaikkan rating kembali ke level investment grade.

Potensi tersebut juga dipengaruhi dan didukung didukung oleh hal-hal sbb.:

  • Moody menaikkan rating Obligasi mata uang asing Indonesia menjadi Ba3 pada 18 Oktober kemarin, dengan pertimbangan membaiknya ratio hutang pemerintah, peningkatan investasi dan semakin sehatnya posisi pembayaran hutang LN.
  • Fitch memberikan positive outlook pada rating BB- dan diperkirakan akan melakukan upgrade di akhir tahun
  • Harapan S&P akan melakukan revisi Stable outlook pada rating BB- menjadi positive outlook sebelum akhir tahun ini karena keberhasilan Indonesia dalam menyelesaikan masalah akibat volatilitas pasar keuangan global.

Terus membaiknya peringkat dan harga pasar obligasi dollar Indonesia merefleksikan bahwa kepercayaan thd Indonesia meningkat.

Membaiknya penilaian terhadap Indonesia, tercermin dalam peringkat instrument hutang Indonesia, antara lain juga tidak terlepas dari usaha pemerintah untuk mengurangi hutang yang berasal dari renasionalisasi sistem perbankan setelah terjadinya krisis keuangan Asia. Pemerintah Indonesia menargetkan pengurangan hutang menjadi dibawah 30% GDP pada tahun 2009.

Pengendalian terhadap defisit fiskal telah berhasil mengurangi rasio hutang thd GDP. Dimana pada awalnya, sejak tahun 2000 defisit fiskal rata-rata mencapai 1,3% GDP, namun sejak 3 tahun terakhir berkisar pada 1% .

Konsolidasi fiskal yang dilakukan telah menciptakan ruang gerak bagi pemerintah untuk membiayai infrastuktur yang dibutuhkan.

Untuk tahun 2007 dan 2008 pemerintah telah membuat program fiskal yang tidak terlalu restriktif sebagai bagian dari usaha pemerintah untuk meningkatkan pembiayaan infrastruktur. Dimana DPR telah menyetujui defisit fiskal 2007 sebesar 1,5% GDP, naik dari target asal sebesar 1,1%, sedangkan untuk tahun 2008 pemerintah menargetkan defisit fiskal sebesar 1,7% GDP.

Selain cukup melebarnya deficit, target pemerintah untuk mengurangi hutang dibawah 30% GDP pada tahun 2009 masih berada dalam jalur yang benar.

Penilaian yang baik terhadap Indonesia juga bisa dilihat dari neraca pembayaran. Ada dua faktor yg perlu diperhatikan berkaitan dg neraca pembayaran Indonesia yaitu besarnya positive swing pada current account dan Foreign Direct Investment (FDI).

Walaupun surplus current account menurun tajam pada tahun 2004 dan 2005 akibat kenaikan harga minyak dunia dan subsidi harga-harga di dalam negeri yang mendorong besarnya import. Namun kemudian, pemotongan subsidi energi telah megurangi distorsi tersebut dan menurunkan import minyak sehingga surplus neraca tadi kembali berjalan membaik.

Berbaliknya dan membaiknya ’current account dan capital account’ neraca pembayaran tersebut menyebabkan cadangan devisa mencapai $53 milyar pada September 2007.
Kenaikan cadangan devisa, besarnya surplus current account dan turunnya ratio hutang LN thd GDP dapat dikatakan merupakan sinyal berkurangnya external vulnerability.

Membaiknya FDI juga sangat penting karena investasi memegang kunci perbaikan pertumbuhan ekonomi seperti pada sebelum krisis. Pertumbuhan GDP melambat dari rata-rata 6,9% sebelum krisis menjadi 4,8% setelah krisis.

Ada dua hal dibalik perlambatan pertumbuhan GDP tersebut, pertama adalah jatuhnya tingkat investasi (rata-rata investasi 25,3% GDP sebelum krisis dan 21% setelah krisis) dan kedua adalah efisiensi investasi yang memburuk sekitar 20% setelah krisis.

Ratio capital output ini menjelaskan seberapa besar investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit GDP. Sedangkan inverse dari ratio tersebut menjelaskan berapa besar GDP dihasilkan oleh satu unit investasi.
Rendahnya tingkat investasi akan mengurangi pertumbuhan GDP kecuali efisiensi investasi meningkat untuk mengoffsetnya.

Sayangnya, efisiensi investasi bukan hanya tidak membaik bahkan memburuk. Sehingga dengan semakin rendah tingkat investasi dan memburuknya efisiensi investasi inilah yang menyebabkan seberapa besar perlambatan pertumbuhan GDP setelah krisis.

Memang kita dapat memungkiri bahwa permasalahan penurunan tingkat investasi dan memburuknya efisiensi investasi tersebut dapat dengan segera dibenahi. Tetapi, setidaknya dengan mengetahui penyebab perlambatan pertumbuhan GDP tersebut diharapkan akan ada upaya untuk mengatasinya dan melakukan pemulihan secara bertahap ke level pertumbuhan sebelum krisis.

Setidaknya, upaya yang dilakukan dalam mendukung pemulihan dan perkembangan positif sudah mulai terlihat melalui :

1. BI mengadop target inflasi sebagai monetary rule di 2005 dengan menggunakan instrument tingkat bunga.

Tidak seperti negara2 lain yang berada di kawasan yang sama, inflasi di Indonesia lebih tinggi dan lebih volatile sejak krisis finansial di Asia.

Inflasi yang tinggi dan volatile menyebabkan iklim investasi menjadi tidak menarik, tetapi berdasarkan pengalaman pada negara2 lain di Asia (termasuk Korea, Thailand dan Filipina), diharapkan target inflasi akan mengurangi rata2 inflasi dan volatilitasnya di Indonesia.

Target inflasi BI untuk 2007 adalah 5-7% dan inflasi year to date adalah 6,3% hingga bulan September masih berada dalam range target. Target 2008 adalah 4-6%.

Diharapkan dengan semakin rendah dan kurangnya gejolak inflasi akan mengarahkan pada stabilitas yang lebih baik pada nilai tukar rupiah dan lebih rendahnya yield obligasi.

Meningkatnya inflasi bisa menghasilkan nilai tukar yang tidak stabil dan lemahnya pasar obligasi. Kejadian ini pernah dialami pada tahun 2005 pada saat inflasi meningkat begitu cepatnya sehingga terkulminasi menjadi krisis neraca pembayaran.

Namun peristiwa tersebut telah menjadi pelajaran bagi otoritas di BI bahwa kenaikan inflasi akan menyebabkan kebijakan pemotongan suku bunga menjadi berisiko. Sehingga sejak inflasi mulai meningkat di bulan Juli, BI membuat kebijakan BI rate tidak berubah pada 8,25%. Diperkirakan dalam jangka pendek inflasi masih tinggi sehingga tingkat bunga kemungkinan belum akan turun.

2. Pertumbuhan ekspor non migas tahun lalu sebesar 20%

Pertumbuhan ekspor non migas merupakan barometer yang baik bagi kesehatan suatu ekonomi.

Pertumbuhan 20% tahun lalu merupakan tanda bahwa ekonomi dalam kondisi baik.

Perbaikan pertumbuhan ekspor di Indonesia, dapat dilihat dari sudut pandang meningkatnya kontribusi Cina terhadap total perdagangan Indonesia. Peningkatan tersebut terjadi dari 7.2% pd 2003 menjadi 9.6% pada Agustus 2007.

Peningkatan yg sama juga terjadi secara regional di Asia, dan Cina merupakan partner perdagangan terbesar bagi setiap Negara di Asia untuk 5 hingga 10 tahun kedepan.

Diharapkan kelebihan produktivitas atas meningkatnya integrasi ekonomi ini bisa membantu pertumbuhan GDP Indonesia menjadi potensial.


Dari beberapa hal uraian dan bahasan diatas, pada akhirnya kita dapat menyimpulkan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang sudah mulai berjalan di Indonesia ini diharapkan akan mengembalikan pertumbuhan ekonomi seperti pada masa sebelum krisis 1997. Bahkan, cukup masuk akal jika kita memprediksi bahwa perbaikan tingkat kepercayaan Internasional terhadap Indonesia, dalam hal akan dinaikkannya kembali peringkat Indonesia oleh lembaga pemeringkat dunia (S&P, Fitch dan Moody’s), akan terjadi dalam waktu dekat.

OBLIGASI NEGARA : TREND BARU BERINVESTASI

Pasca krisis pasar reksadana di pertengahan tahun 2005 sempat memunculkan rasa ketidak-amanan masyarakat dalam melakukan investasi di pasar modal. Hal tersebut menyebabkan masyarakat semakin lebih mencari investasi yang aman dalam menempatkan dana-dananya.

Berbagai pengalaman yang telah dijalani oleh masyarakat tersebut (sejak pasca krisis moneter dipertengahan tahun 1997, krisis pasar reksadana di pertengahan tahun 2005 dan hingga kemudian krisis sub-prime morgage dibulan Agustus 2007) memicu masyarakat semakin sangat teliti dan sangat berhati-hati dalam melakukan investasi baik di instrumen perbankan maupun pasar modal. .

Dengan didasari hal-hal tersebut, Pemerintah sejak pertama kali menerbitkan Obligasi Retail Indonesia seri-001 ditahun 2006 hingga penerbitan ORI seri-003 bulan September yang lalu, terus berupaya meng-edukasi masyarakat Indonesia, dari ‘saving society’ untuk naik menjadi ‘investing society’. Dengan diterbitkannya ORI, selain merupakan diversifikasi sumber pendanaan pembangunan bagi pemerintah , pemerintah juga mencoba menjadikan ORI sebagai perluasan pilihan bagi masyarakat untuk berinvestasi, terutama dalam hal jumlah minimum investasi yang relatif kecil dibandingkan dengan investasi pada surat utang lainnya yang telah ada.

Dalam rangka membiayai defisit anggaran pemerintah, Selain menerbitkan Obligasi Negara dalam mata uang Rupiah (Local Currency) Pemerintah juga beberapa kali menerbitkan Obligasi Negara dalam valuta asing (Foreign Currency).

Dalam rangka membiayai defisit anggaran pemerintah tersebut, Pemerintah Indonesia belakangan ini cukup aktif menerbitkan Obligasi Negara.

Namun demikian, keberhasilan pemerintah dalam upaya untuk menurunkan prosentase jumlah hutangnya beberapa tahun terkahir ini, dimana pemerintah menargetkan penurunan tersebut sampai 30% dibanding GDP pada tahun 2009, menandakan persepsi kemampuan pemerintah untuk membayar hutangnya semakin besar.

Penguatan nilai tukar Rupiah, optimisme Bank Indonesia terhadap kecenderungan penurunan inflasi dan suku bunga, kondisi eksternal (perkembangan suku bunga global) yang sedikit membaik dan naiknya peringkat utang Indonesia juga telah semakin memberikan kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi dan pasar obligasi Indonesia.

Membaiknya peringkat hutang dan kepercayaan terhadap Pemerintah tersebut memicu animo masyarakat dalam melakukan investasi di Obligasi Negara. Meningkatnya permintaan akan berinvestasi di Obligasi Negara tersebut adalah selain dikarenakan searah dengan turunnya tingkat bunga perbankan lokal dan US Federal Reserve, tetapi juga dikarenakan oleh Obligasi Negara tersebut dijamin pemerintah Indonesia.

Animo masyarakat dalam melakukan investasi di Obligasi Negara tercermin langsung dari total jumlah Obligasi Negara yang dibeli oleh investor (perorangan maupun institusi).

Semakin banyaknya animo investor (Perorangan dan Institusi) terhadap instrumen obligasi negara (valuta rupiah & valuta asing) menyebabkan semakin naiknya harga-harga obligasi tersebut, yang juga dengan sendirinya menyebabkan semakin turunnya Yield yang diharapkan dalam investasi pada obligasi.

Perkembangan distribusi penjualan dan perluasan basis investor dalam setiap penerbitan Obligasi Negara yang diterbitkan akhir-akhir ini juga menunjukan bahwa selain investor institusi, para investor perorangan juga semakin meningkat minat investasinya.

Minat investor perorangan terhadap obligasi negara dalam valuta asing biasanya dilakukan melalui Private Banking, Hedge Fund dan Manajer Investasi.

Sedangkan untuk Obligasi Negara dalam valuta rupiah (Local Currency), meningkatnya animo investor perorangan dalam melakukan investasi di Obligasi Negara sangat jelas terlihat dari total jumlah Obligasi Negara Ritel (ORI) yang dibeli oleh masyarakat.

Ditahun 2006, ORI-seri 001 telah berhasil menghimpun dana mencapai Rp 3,2 triliun, sedangkan melalui penerbitan ORI seri-002 di bulan Maret 2007 pemerintah juga berhasil menghimpun dana mencapai Rp. 6 Trilyun. Bahkan pada bulan September 2007 pemerintah kembali berhasil menghimpun dana mencapai Rp. 9,36 Trilyun.

Sambutan yang luar biasa dari investor perorangan terhadap ORI 003 beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa krisis di pasar finansial global akibat rontoknya pasar kredit hipotik Amerika Serikat tidak menyurutkan minat masyarakat terhadap ORI003.

Perluasan basis investor sebagai target penerbitan Obligasi Negara Ritel sejak awal diterbitkan ORI001 s/d ORI003 juga menunjukan betapa semakin bertambah luasnya minat masyarakat dalam berinvestasi di Obligasi.

Sebagai contoh, dalam penerbitan ORI003 pada bulan September 2007 lalu terlihat adanya peningkatan pembelian ORI di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur, baik itu dari sisi volume pemesanan maupun jumlah investor.

Dari sisi profesi, profil investor yang paling besar dalam pembelian ORI003 adalah wiraswasta (24,38%) yang diikuti oleh pegawai swasta (23,76%) dan ibu rumah tangga (21,95%). Kenaikan jumlah investor ibu rumah tangga merupakan fenomena yang cukup menarik yang mengindikasikan bahwa merekalah pemilik dana yang cukup besar dari sisi ritel. Dengan bertambahnya jumlah investor individu di pasar obligasi hal ini akan menciptakan kedalaman pasar (market deepness) yang merupakan salah satu pilar kekuatan sistem keuangan suatu negara.

Dari sisi kelompok umur investor dengan usia 41–55 tahun (40%) dan 25–40 tahun (31%) menempati posisi teratas dalam jumlah pemesanan, sementara jumlah pemesan terbesar pada range >100 s/d 500 juta (31,70%) dan >5 s/d 50 juta (26,80%).

Dengan melihat kondisi-kondisi tersebut diatas, maka dapat kita katakan bahwa saat ini tidak hanya para investor perorangan yang mempunyai uang banyak saja yang berminat untuk berinvestasi di Obligasi Negara (biasanya dilakukan melalui Private Banking dan Manajer Investasi), tetapi masyarakat umum juga semakin banyak yang berminat dalam berinvestasi di Obligasi Negara.

Semakin banyaknya masyarakat yang melakukan investasi di Obligasi Negara, khususnya dalam hal ORI, juga tidak terlepas dari kegiatan sosialisasi yang terus-menerus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang bersama-sama agen penjual yang berdampak pada semakin meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap manfaat dan risiko ORI. Ini membuktikan bahwa kegiatan sosialisasi dan komunikasi intensif kepada masyarakat merupakan suatu hal yang penting dalam mengembangkan pasar keuangan domestik.

Upaya yang berkesinambungan oleh Pemerintah dalam merubah kebiasaan masyarakat yang tadinya sekedar menabung menjadi pelaku investasi, juga terlihat dalam pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Keuangan bahwa; Pemerintah secara terus menerus melakukan pengembangan pasar ritel dengan melakukan: a) penerbitan ORI secara periodik dalam rangka market deepening dan benchmarking harga ORI di pasar sekunder, mengingat ORI adalah tradable instrument; b) Diversifikasi instrumen ritel dengan menerbitkan instrumen ritel berbasis syariah segera setelah UU SBSN diberlakukan; c) Kerjasama dengan SROs pasar modal untuk mengembangkan berbagai infrastruktur di pasar sekunder dalam rangka meningkatkan keamanan, kenyaman, kemudahan bagi para investor individu bertransaksi Surat Berharga Negara ritel; d) Melakukan sosialisasi secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat untuk menjadi pemodal dan tidak hanya sekedar penabung.

Semoga dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berinvestasi pada Obligasi Negara tersebut maka slogan ‘berinvestasi membangun negeri’ dapat terwujud secara nyata.

Selamat berinvestasi.!!

Strategi Pemilihan Sebuah Benda Seni sebagai Media Investasi

Berburu Hasil Karya Seni

Pada awalnya, kegiatan berburu benda-benda karya seni tersebut dilakukan oleh para kolektor dan pecinta seni semata-mata hanya merupakan wujud dan apresiasi mereka terhadap nilai karya sebuah benda seni. Hal tersebut kemudian berkembang, hasrat berburu benda-benda karya seni tersebut dilakukan tidak lagi hanya sekedar didasarkan pada nilai kecintaan mereka terhadap benda-benda seni tersebut tapi kemudian juga dijadikan sebagai salah satu alternative investasi yang cukup menjanjikan.

Namun demikian, dalam realita kita juga menemukan bahwa banyak karya-karya seni rupa yang tidak kita sukai tetapi selalu memperlihatkan hal-hal yang mengejutkan. Misalkan, tiba-tiba karya tersebut beberapa tahun berselang dikatakan sebagai karya yang bernilai tinggi dan berharga nahal. Demikian sebaliknya, banyak karya-karya seni rupa yang kita sukai, suatu saat kemudian malah disebut sebagai karya yang tak bernilai dan berharga. Di mana letak nilai tinggi dan kemahalan harganya ?

Kita kembali kepada hal-hal yang berkenaan dengan keberadaan, reputasi, dan prestasi seorang seniman yang terkadang mengejutkan : menggembirakan atau mengecewakan. Kenyataan demikian selalu berhubungan dengan perdiksi-prediksi, tafsiran-tafsiran, dan ‘ramalan-ramalan’. Tetapi semua itu biasanya sering dianggap dan dimaklumi sebagai hal yang berkenaan dengan faktor keberuntungan, nasib, atau garis hidup.

Bagi para ahli seni rupa, kejadian demikian sangat tipis untuk disebut sebagai kegagalan atau kesalahan praduga. Sebab, dunia seni rupa acapkali berkaitan dengan reka-pikir penyiasatan, pengkondisian, dan pembongkaran yang selalu tidak terduga. Namun sebagai media investasi yang didasari oleh hal-hal terukur, hal demikian sebetulnya tak perlu terjadi.

Karena itu, hal terburuk selalu dinyatakan melalui upaya rekayasa pasar. Pasar merujuk kepada tradisi ‘musiman’, permintaan massa, dan pengkondisian oleh para pengendali pasar. Karya-karya yang bernilai dan berharga tentunya tidak bakal mudah dipengaruhi rekayasa pasar, namun mudah sekali dibangun atau dijatuhkan olehnya. Sebab, nilai ditentukan oleh kekuatan produk, sedangkan harga dipandu oleh nilai. Senimaan yang piawai bisa menggubah dan mengikuti hukum nilai tersebut, sekaligus selalu bersabar untuk memasuki saat-saat yang menentukan. Di sini, kecakapan seorang seniman bisa seiring dengan kepiawaian seorang pengendali pasar.

Karya-karya seni rupa yang menjanjikan senantiasa tegar menghadapi pasang-surutnya gelombang pasar, yaitu karya-karya yang mengandung nilai-nilai monumental dalam sejarah perubahan kebudayaan. Karya-karya seperti itu sering disebut sebagai karya yang tak lekang oleh perubahan dan dapat melintasi batas ruang dan waktu. Orang cenderung menyebutnya sebagi karya master atau puncak-puncak kedigdayaan. Karya-karya seperti itu memang bisa sangat sedikit jumlahnya, lahir dari para maestro pada ruang dan di waktu tertentu. Tetapi, karya-karya master pun tak luput dari upaya pengkondisian.

Seperti “Lukisan Monalisa”, “Monalisa” karya Leonardo da Vinci, saat ini konon merupakan sebuah lukisan yang apabila dinilai dengan uang, telah menjadi karya seni lukis termahal di dunia. Tetapi, masih banyak lagi lukisan karya para seniman terkenal masa lalu dan masa kini yang juga berharga tinggi. Tentunya kita perlu bertanya: mengapa lukisan-lukisan tersebut berharga tinggi ?; siapa yang mengkondisikannya ? dan; bagaimana bisa demikian ?

Jawaban yang paling mudah adalah, karena karya-karya tersebut konon telah ditelaah dan dipertanggungjawabkan, ditulis dan diberitakan, diberi nilai dan harga, oleh lembaga-lembaga kesenian yang terpercaya di dunia. Sehingga tak syak jika karya-karya tersebut serta-merta digelar di ruang-ruang pameran terhormat, dimuat media massa terkemuka, dicari orang di pasar lukisan tertentu, atau diperebutkan di balai lelang karya-karya seni terbesar.

Lukisan “Monalisa” tersebut, dapat dikatakan telah menjadi barang-barang berharga, bentuk-bentuk monumental, dan benda-benda komoditas.

Oleh karena itu, setiap karya seni rupa yang telah ditelaah dan dipertanggung-jawabkan, ditulis dan diberitakan, serta diberi nilai dan harga, memiliki peluang untuk menjadi media investasi yang tak lekang oleh perubahan ruang dan waktu. Bahkan, ada semacam nilai investasi di dalam karya-karya tersebut, bahwa semakin lama nilai dan harga sebuah karya seni rupa, tidak mengenal turun melainkan cenderung naik. Ambillah contoh bandingan nilai dan harga “Monalisa” satu abad silam dengan kenyataan masa kini, melesat terus berlipat ganda.

Perburuan benda-benda hasil karya seni tersebut telah berkembang menjadi suatu keyakinan bahwa ada semacam nilai investasi di dalam setiap karya-karya seni tersebut.

Perburuan benda-benda karya seni tersebut terus berkembang dengan pesat. Berdasarkan data dari “Christie”, salah satu lembaga lelang benda-benda seni (auction house) terkemuka di dunia, nilai hasil lelang barang-barang antik cina (keramik), hasil lelang yang dilakukan di London pada bulan Juli 2005 adalah US. 27,7 Juta, yang kemudian meningkat menjadi USD. 32 Juta pada saat hasil lelang di Hongkong pada akhir bulan November 2005. Lembaga lelang tersebut (Christie) juga menyatakan bahwa seluruh nilai hasil lelang yang telah dilakukan selama tahun 2005 menunjukan kenaikan lebih besar 30% dibanding nilai lelang pada tahun 2004.

Strategi Pemilihan Sebuah Benda Seni sebagai Media Investasi

Pada saat berhadapan dengan karya-karya seni rupa yang akan dipilih untuk menjadi media investasi tentunya diharapkan jangan sampai terjadi kesalahan atau kekeliruan dalam proses mengambil keputusan. Pemahaman kita tentang reputasi dan prestasi seniman, proses penggubahan, makna, dan nilai tadi, sesungguhnya barulah menjadi salah satu bagian dari strategi dan kiat pemilihan karya yang layak menjadi media investasi. Setiap strategi dan kiat seyogyanya dibarengi dengan suatu kumpulan pengalaman dan pertimbangan lain yang patut disadari. Sebab, bagian awal pemahaman tadi harus disadari sebagai wilayah yang tertutup, hal-hal yang dialami seniman sebagai seorang kreator. Masih ada hal-hal yang menjadi wilayah terbuka, yaitu manakala kita sebagai pribadi (yang juga punya selera, pemahaman, dan penikmatan) akan berhadapan dengan karya pribadi seorang seniman. Di saat inilah kita memerlukan seperangkat pengalaman menyimak begitu banyak karya, pengetahuan tentang seni rupa, dan pengamatan yang tajam akan makna, nilai, dan bahasa estetika rupa. Untuk itu, kita perlu menyusun strategi sebagai berikut :

1.Investigate and Up-dating
Menyimak secara cermat (investigasi) terhadap catatan reputasi dan prestasi seorang seniman melalui perjalanan hidupnya sebagai seorang kreator. Upayakan untuk selalu menjaga dan mempertajam kemampuan pribadi yang tentunya berkenaan dengan selera, pengetahuan, dan kecenderungan terhadap suatu gaya seni.

2.Observe and Be an Auction Bore
Hadiri setiap pameran, pelelangan dan penjualan barang antic, walaupun kehadiran tersebut tidak selalu bertujuan untuk membeli.
Amati setiap perangai karya seni sebagai bahan untuk menjadi pengalaman dan jangan malu untuk bertanya kepada setiap speasialis dan kolektor-kolektor terkenal.

3.Study and Become a Specialist Collector
Pelajari referensi seni rupa dari teks-teks yang dapat diperoleh dari mana pun; termasuk kepustakaan, konsultasi, dan pernyataan para ahli.
Pilihlah barang-barang yang memang anda mengerti dengan baik, belajarlah menjadi spesialis (focus pada barang-barang tertentu) dan dapatkan katalog-katalog mengenai barang-barang antic serta datangi pameran-pameran dan eksebisi-eksebisi barang antic.

4.Spend More, Buy Less
Pembelian dan investasi dilakukan lebih berdasarkan kualitas dan bukan kuantitas.
Memiliki barang dalam jumlah sedikit namun dengan nilai harga tinggi adalah lebih baik dibanding memiliki barang dalam jumlah banyak tetapi dengan nilai harga rendah.

5.Don’t Buy Damaged Goods
Beli dan miliki barang-barang dalam kondisi baik walaupun hal tersebut cukup sulit untuk dilakukan.

6.Open mind and Cherish Your Investment
Pilihlah benda-benda karya seni yang anda sukai dan dapat anda nikmati, serta selalu upayakan memberikan kesediaan diri untuk menerima segala perkembangan yang dilakukan oleh para seniman dan karya-karyanya.

Strategi tersebut sesungguhnya merupakan kiat-kiat dasar untuk menjatuhkan keputusan memilih. Lebih dari itu, secara pribadi sebagai penikmat kita mulai harus mengenali kekuatan setiap unsur bahasa estetika rupa (titik, garis, bidang, ruang, warna, dan tekstur). Unsur-unsur bahasa estetika rupa lah yang kerap melahirkan citra keindahan dari hal-hal yang berhubungan dengan apa yang digambarkannya. Unsur-unsur bahasa estetika rupa tersebut pada dasarnya sebagai pembentuk objek, tema, dan konteks sebuah karya. Objek berupa benda-benda, alam, mahluk, dan peristiwa. Tema adalah hal-hal yang dibangun untuk mencapai makna ungkapan, seperti : alam benda, pemandangan, kemanusiaan, penggambaran kembali (representasi) peristiwa, atau gabungan dari unsur-unsur makna tersebut. Konteks sebuah karya bisa saja berhubungan dengan sikap pribadi seorang seniman dan latar belakang pengaruh-pengaruhnya, daya kritis, serta tanggap lingkungan dan sosial.

Kendalikan hasrat belanja anda melalui Kartu Kredit

Anda sekarang telah selesai kuliah dan hidup mandiri dengan pekerjaan baru yang menawarkan gaji tinggi serta telah memiliki apartemen sendiri. Suatu hari perusahaan kartu kredit Anda menaikan limit kartu kredit Anda menjadi Rp.10.000.000,- Anda berpendapat—bagus! Atau, Mengapa?

Sebelum Anda tahu jawabannya, Anda telah sibuk belanja furnitur baru dan baju model terbaru sehingga hutang kartu kredit Anda mencapai batas limit maksimumnya. Selanjutnya Anda sadar bahwa tagihan kartu kredit Anda telah melebihi gaji Anda bahkan Anda tidak sanggup melunasi tagihan itu sehingga Anda terlilit dengan hutang kartu kredit. Satu – satunya alternatif adalah meminta bantuan finansial dari orang tua sampai Anda bisa kembali mandiri dan memiliki sedikit tabungan di bank. Terdengar seperti suatu mimpi buruk?

Sayangnya hal seperti ini sering menimpa pegawai muda (=young adults) yang terlilit dengan hutang kartu kreditnya. Sebenarnya kondisi seperti ini dapat dihindari seandainya Anda mengerti bagaimana cara kerja kartu kredit dan mematuhi beberapa aturan dasar kartu kredit.

Bayarlah Melebihi Tagihan Minimum

Kartu kredit membebankan bunga berbunga atas saldo tagihan Anda. Setiap hari bunga dihitung dan membuat Anda semakin dalam terjerumus ke dalam hutang kartu kredit. Kebanyakan kartu kredit hanya mensyaratkan pembayaran minimum setiap bulannya, biasanya sebesar 10% dari total hutang.

Perhatikan tabel berikut ini yang mengilustrasikan pembayaran minimum dari suatu kartu kredit. (Contoh Kartu Kredit BNI dengan bunga 2,55% perbulan atau APR 30,60% pa.)

Annual Percentage Rate (APR)

30,60 %

Total Hutang Kartu Kredit

Rp. 10.000.000,-

Pembayaran Minimum

10 %

Jangka Waktu Pelunasan

3,5 tahun

Total Cicilan Pokok dan Bunga

Rp. 13.249.650,-

Total Cicilan Bunga

Rp. 3.249.650,-

Pembayaran minimum dalam tabel ini tidak boleh kurang dari Rp. 100.000,-.

Bagaimana Cara Menghindari Lilitan Hutang Kartu Kredit

  1. Patuhi beberapa aturan dasar kartu kredit berikut ini agar terhindar dari lilitan hutang kartu kredit dan sekaligus memiliki reputasi yang baik sebagai nasabah kartu kredit.
  2. Pahami kondisi dan batas keuangan Anda, dan jangan melibihi batas tersebut. Hanya gunakan kartu kredit jika Anda yakin akan sanggup mencicilnya tiap bulan.
  3. Jika hutang kartu kredit Anda terlanjur besar, bayarlah cicilan melebihi jumlah cicilan minimum (atau sebesar jumlah maksimum yang Anda sanggup bayar) agar saldo hutang akan berkurang. Tekanlah saldo hutang kartu kredit Anda serendah mungkin.
  4. Jangan langsung tergoda dengan produk yang ditawarkan dengan program promosi kartu kredit. Bandingkan terlebih dahulu harga produk tersebut di beberapa outlet lainnya.
  5. Bandingkan Annual Percentage Rates (APR) antara satu kartu kredit dengan lainnya. Umumnya APR berkisar antara 30,25% hingga 36,00%.
  6. Pilihlah 1 atau 2 kartu kredit utama saja dan jangan membelanjakan kartu kredit Anda hingga batas limitnya.
  7. Bacalah ketentuan tentang denda dan penalti.
  8. Jika saat ini Anda memiliki beberapa kartu kredit dengan saldo hutang yang cukup besar, pindahkan hutang kartu kredit Anda ke kartu yang miliki APR yang paling kecil.

MERAMAL PERGERAKAN NILAI TUKAR MATA UANG DENGAN MENGGUNAKAN ANALISA TEKNIKAL

Dalam melakukan transaksi valuta asing (forex trading), keterampilan untuk mengestimasi arah dan perubahan harga pada pasar valuta asing adalah merupakan cara yang cukup baik dalam memanfaatkan peluang akibat perubahan harga tersebut.

Analisa teknikal adalah merupakan salah satu cara yang cukup berguna dalam membantu investor untuk mengestimasi arah dan perubahan harga pada pasar valuta asing. Analisis teknikal merupakan analisis terhadap pola pergerakkan harga di masa lampau dengan tujuan untuk meramalkan pergerakkan harga di masa yang akan datang.

Analisa teknikal dapat didefinisikan sebagai bidang yang mempelajari dinamika pasar, khususnya melalui pemakaian bagan/chart untuk tujuan meramalkan trend pergerakan harga. Dinamika pasar disini mencakup antara lain harga komoditi dan volume transaksi, tetapi pada umumnya dinamika pasar sering disinonimkan oleh dinamika harga karena sebagian besar kegiatan analisa teknis adalah memantau pergerakan harga di pasar.

Kegunaan Analisis Teknikal

Analisa teknikal dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menggambarkan pergerakan harga dipasar valuta asing baik yang bersifat jangka pendek, seperti day trading maupun yang berjangka waktu lebih panjang ke dalam suatu grafik atau bagan, dengan tujuan untuk mengidentifikasi trend melalui berbagai perangkat.

Ada tiga kekuatan utama dalam analisis teknik yaitu:

1. Kekuatan utama analisis teknikal terletak pada sifatnya yang fleksibel terhadap setiap perubahan yang terjadi. Fleksibel analisis teknikal ini terletak pada metode analisis serta indikator-indikator yang digunakan sebagai alat bantu dalam melakukan suatu prediksi nilai tukar mata uang. Seorang analis teknikal yang mempunyai spesialisasi dalam menganalisis pergerakan nilai tukar suatu mata uang tertentu dapat dengan mudah mengaplikasikan metode analisis teknikal yang telah dimilikinya untuk melakukan analisis terhadap jenis mata uang lain. Metode teknikal dapat digunakan untuk meramalkan pergerakan berbagai jenis mata uang. Jadi, dalam penggunaannya tidak terdapat batasan.

2. Keunggulan analisis teknikal juga terletak pada fleksibelitas penerapannya di berbagai jenis pasar yang hendak dimasuki. Seorang investor yang telah terbiasa menggunakan analisis teknikal dalam transaksi perdagangan di pasar Spot dapat dengan mudah melakukan transisi apabila ia ingin menggunakan analisis tersebut dalam transaksi di pasar Futures. Ini bisa terjadi karena metode analisis teknikal yang diterapkan adalah sama, baik untuk pasar Spot maupun Futures, sehingga dapat diaplikasikan ke berbagai jenis pasar yang hendak dimasuki. Jadi, sehubungan dengan jenis pasar yang hendak dimasuki, tidak terdapat batasan bagi seorang investor untuk menerapkan analisis teknikal.

3. Keunggulan analisis teknikal lainnya yaitu dapat digunakan untuk melakukan analisis terhadap berbagai faktor nonkuantitatif dan faktor psikologi pasar (perilaku investor, sperti sifat tamak, takut, dan lain-lain) yang tidak dapat dianalisis dengan menggunakan indikator-indikator dalam analisis fundamental.